BANTUL — Terletak di atas perbukitan asri sekitar 17 kilometer di selatan pusat Kota Yogyakarta, Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri—atau yang lebih akrab disebut masyarakat sebagai Pajimatan Imogiri—berdiri megah menantang zaman. Lebih dari sekadar kompleks pemakaman kuno, cagar budaya ini adalah episentrum sejarah, spiritualitas, dan tradisi Jawa yang denyutnya masih terasa kuat hingga hari ini.
Bagi wisatawan maupun peziarah, Pajimatan Imogiri menawarkan napak tilas kebesaran masa lalu, tepatnya ketika Kesultanan Mataram Islam berada di puncak kejayaannya.
Mahakarya Sultan Agung Sejak 1632
Sejarah mencatat, kompleks pemakaman ini mulai dibangun pada tahun 1632 Masehi (1554 Saka) atas prakarsa Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Mataram Islam. Pemilihan lokasi di atas bukit bukanlah tanpa alasan. Hal ini merepresentasikan kosmologi Jawa kuno yang meyakini tempat tinggi sebagai kawasan suci dan sarana untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Uniknya, setelah Perjanjian Giyanti (1755) yang membelah Mataram, kompleks makam ini tidak diperebutkan. Area pemakaman justru dibagi menjadi beberapa kedhaton yang menaungi keluarga Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta secara berdampingan.
Ratusan Anak Tangga dan Syarat Pakaian Adat
Setibanya di lokasi, pengunjung akan langsung disambut oleh gapura batu bata merah bergaya candi bentar dan paduraksa yang kental dengan perpaduan arsitektur Jawa-Hindu dan Islam. Namun, untuk mencapai pelataran makam utama, pengunjung harus menyiapkan fisik ekstra.
Terdapat ratusan anak tangga yang harus didaki. Perjalanan fisik meniti tangga ini menyimbolkan proses pembersihan diri, perjuangan, dan wujud penghormatan sebelum menghadap makam para raja besar.
Berbeda dengan destinasi wisata religi lainnya, Makam Imogiri menerapkan tata krama yang sangat ketat. Wisatawan yang ingin memasuki area makam utama wajib menanggalkan pakaian modern. Peziarah laki-laki diwajibkan memakai busana peranakan khas keraton (tanpa alas kaki dan keris), sementara perempuan wajib mengenakan kain kemben. Larangan memotret, berbicara kasar, hingga memakai perhiasan berlebih juga diberlakukan demi menjaga kesakralan.
Ritual Suro dan Peran Abdi Dalem
Selain ziarah rutin pada hari Senin dan Jumat, situs ini juga menjadi saksi bisu berbagai ritual kebudayaan tahunan yang menyedot perhatian warga. Salah satu yang paling dinanti adalah Nawu Enceh atau ritual menguras empat gentong suci peninggalan Sultan Agung yang digelar setiap bulan Suro (Muharram) pada hari Jumat Kliwon. Air dari gentong tersebut kerap dibagikan karena diyakini membawa keberkahan.
Kelestarian semua tradisi ini tidak lepas dari peran para abdi dalem juru kunci. Menariknya, abdi dalem ini merupakan utusan dari dua keraton—Yogyakarta dan Surakarta—yang secara bergantian membersihkan makam, mengatur peziarah, dan melantunkan doa.
Mengunjungi Makam Imogiri bukan sekadar berwisata sejarah. Di tengah modernisasi yang berlari kencang, Pajimatan Imogiri menjadi oase untuk kembali meresapi nilai kesederhanaan, penghormatan kepada leluhur, dan kebanggaan akan identitas budaya bangsa.






