Bayangkan seorang anak yang lahir dari keluarga paling miskin di Indonesia. Secara statistik, hidupnya sudah berat bahkan sebelum ia lahir. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting pada kelompok ekonomi termiskin mencapai 29,8 persen, jauh di atas rata-rata nasional 19,8 persen. Kalaupun lolos dari stunting, tantangan berikutnya sudah menunggu. Makanan bergizi tidak selalu tersedia di rumah. Ketika beranjak remaja, tekanan untuk berhenti sekolah dan ikut menopang ekonomi keluarga datang.
Begitulah kemiskinan diwariskan, dari orang tua ke anak, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kabar baiknya, anak seperti itu kini tidak lagi berjalan sendirian. Pemerintah menjangkaunya lewat tiga program sekaligus yaitu percepatan penurunan stunting, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Sekolah Rakyat. Ketiganya membentuk rangkaian perlindungan dari kandungan hingga bangku SMA, dan hasil awalnya memberi alasan kuat untuk berharap.
Niat yang Berangkat dari Masalah Nyata
Sulit membantah bahwa ketiga program ini menyasar persoalan yang nyata. Stunting bukan sekadar soal tinggi badan. Ia berkaitan dengan perkembangan otak, kesehatan jangka panjang, dan produktivitas anak kelak. Kementerian Kesehatan sendiri menegaskan stunting terbentuk sejak dalam kandungan, dan menargetkan prevalensinya turun ke 14,2 persen pada 2029. MBG yang dimulai pada Januari 2025, merupakan janji kampanye Presiden Prabowo Subianto. Sasarannya bukan hanya siswa, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Logikanya sederhana anak yang lapar sulit belajar, dan ibu yang kurang gizi berisiko melahirkan anak stunting.
Sekolah Rakyat, yang dikelola Kementerian Sosial, berangkat dari kenyataan lain. Anak dari keluarga miskin ekstrem sering putus sekolah bukan semata karena biaya SPP. Mereka terhimpit urusan makan, ongkos transportasi, dan kebutuhan keluarga. Sekolah berasrama gratis bagi keluarga desil 1 dan 2 dirancang untuk memotong semua hambatan itu sekaligus. Yang membuat rangkaian ini menarik, ketiganya saling melengkapi. Masing-masing menjaga fase tumbuh kembang yang berbeda dari anak yang sama, sehingga peluang memutus kemiskinan antargenerasi menjadi lebih besar.
Hasil Awal yang Menjanjikan
Angka-angka awal menunjukkan arah yang benar. SSGI 2024 mencatat prevalensi stunting turun dari 21,5 persen menjadi 19,8 persen, melampaui target 20,1 persen. Pemerintah menyebut sekitar 377.000 kasus balita stunting baru berhasil dicegah. Di balik angka itu ada ratusan ribu anak yang kini punya peluang tumbuh lebih sehat. MBG tumbuh dengan kecepatan yang jarang terlihat pada program pemerintah. Hingga awal Januari 2026, program ini telah menjangkau 56,13 juta penerima di 38 provinsi. Dua minggu kemudian, 21.102 dapur penyedia (SPPG) sudah beroperasi, melayani 58,3 juta orang. Setiap dapur itu juga membutuhkan juru masak, pemasok bahan pangan, dan tenaga setempat, sehingga manfaatnya ikut dirasakan ekonomi lokal.
Sekolah Rakyat bergerak tak kalah cepat. Pada Januari 2026, Presiden meresmikan 166 sekolah rintisan dengan hampir 16.000 siswa. Per Agustus 2026, jumlah siswanya sudah lebih dari 43.000. Pemerintah menargetkan 500 sekolah hingga 2029, dengan lebih dari 400 ribu siswa. Cara Sekolah Rakyat menerima siswa juga patut dicatat. Tidak ada pendaftaran terbuka; petugas menjangkau langsung keluarga sasaran. Dengan begitu, anak dari keluarga paling miskin, yang sering tak tahu cara mendaftar, tidak tertinggal. Para orang tua pun menyambut gembira karena beban biaya pendidikan terangkat.
Belajar sambil Berjalan
Program sebesar ini tentu tidak lepas dari tantangan. Justru cara pemerintah meresponsnya yang memberi alasan tambahan untuk optimis.
MBG sempat diguncang kasus keracunan makanan, yang menurut Badan Gizi Nasional (BGN) memuncak pada Oktober 2025 dengan 85 kasus. Responsnya tegas: BGN menghentikan sementara 10 dapur yang melanggar prosedur, BGN menyebut tren insiden menurun signifikan sejak akhir 2025.
Sekolah Rakyat menempuh jalan serupa. Kementerian Sosial menurunkan tim untuk mengevaluasi fasilitas, kecukupan tempat tidur, tenaga pengajar, dan kondisi siswa. Masa pengenalan sekolah diperpanjang menjadi dua pekan agar anak-anak bisa beradaptasi. Untuk mendukung perluasan, Kemensos mengusulkan tambahan lebih dari 5.000 guru dan 4.000 tenaga kependidikan, sambil mengingatkan jajarannya agar program ini bersih dari korupsi. Masukan kritis dari lembaga kajian dan akademisi, mulai dari soal keamanan pangan hingga desain sekolah berasrama, juga terus mengalir. Itu tanda yang sehat: program-program ini diawasi banyak mata, dan setiap kritik menjadi bahan perbaikan.
Alasan untuk Optimis
Fondasinya kini sudah terpasang. Untuk anak dari keluarga termiskin, ada perlindungan gizi sejak dalam kandungan, makanan bergizi di masa tumbuh kembang, dan sekolah gratis yang menampungnya hingga lulus SMA. Langkah berikutnya adalah menyatukan ketiganya. Kementerian Kesehatan sendiri menyarankan agar penurunan stunting disinergikan dengan penghapusan kemiskinan ekstrem. Jika data dan kerja Kemenkes, BGN, dan Kemensos terus dipertemukan, dampak ketiga program akan berlipat, bukan sekadar dijumlahkan. Target sudah jelas stunting 14,2 persen pada 2029, dan ratusan ribu anak miskin menikmati Sekolah Rakyat.
Masyarakat juga punya peran. Orang tua, guru, pemerintah desa, dan media dapat ikut mengawal, melaporkan masalah, dan memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat. Program sebesar ini akan berhasil bukan hanya karena kerja pemerintah, tetapi karena dijaga bersama.
Anak dari keluarga termiskin itu kini punya peluang yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Jika rangkaian ini terus diperbaiki dan dijaga, rantai kemiskinan yang diwariskan turun-temurun bisa benar-benar diputus, mulai dari generasi ini.

